Monday, January 6, 2014

Awal Mula Diturunkannya Wahyu

Seberkas Sinar Awal Mula Kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

Awal Mula Diturunkannya Wahyu

Al-Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahih mereka mencantumkan sebuah kisah agung yang sarat dengan pelajaran dan ibrah, bersumber dari Ummul Mukminin Aisyahradhiallahu ‘anha, dia bercerita bahwa:

Awal mula diturunkannya wahyu kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan diperlihatkannya kepada beliau mimpi yang baik. Dan tidaklah beliau bermimpi melainkan mimpi itu seperti terangnya waktu subuh. Lalu timbul kesenangan untuk berkhalwah (menyepi), maka beliau pun menyendiri di Gua Hira.
Beliau beribadah beberapa malam di sana sebelum kembali kepada keluarganya dan meminta bekal secukupnya, setelah itu beliau pun kembali kepada Khadijah radhiallahu ‘anha, dan berbekal kembali secukupnya sampai datang al-haq kepadanya ketika beliau berada di Gua Hira.
Maka datanglah seorang malaikat seraya mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Lalu dia (malaikat) menarikku dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan, lalu ia melepasku. Kembali ia mengatakan, “Bacalah!” beliau menjawab, “Saya tidak dapat membaca.” Lalu dia (malaikat) menarikku untuk kedua kalinya dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan lalu ia melepaskanku. Dia tetap memerintahkan, “Bacalah!” Beliau menjawab, “Saya tidak bisa membaca.” Lalu dia (malaikat) menarikku untuk ketiga kalinya dan mendekapku dengan erat hingga aku merasa kepayahan, lalu melepaskanku kemudian mengatakan,
Bacalah dengan (menyebut) Nama Robbmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Robbmulah yang Maha pemurah.”
Kemudian beliau pulang dalam keadaan hatinya gemetar ketakutan. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui Khadijah binti Huwailid seraya berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Maka beliau pun diselimuti hingga hilang dari diri beliau rasa takut tersebut. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bercerita kepada Khadijah tentang kejadian yang dialaminya, beliau mengadukan: “Sungguh aku mengkhawatirkan diriku,” jawab khodijah menenangkan: “Demi Allah Subhanahu wa Ta’ala, janganlah engkau merasa khawatir, Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah akan merendahkanmu selamanya, sesungguhnya engkau adalah seorang yang menyambung tali silaturahmi, engkau telah memikul beban orang lain, engkau suka membantu seorang yang kesulitan, engkau menjamu para tamu, dan selalu membela kebenaran.”
Lalu ia mengajak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenemui Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza anak paman Khadijah, dan beliau adalah seorang Nashrani pada masa jahiliyyah. Waroqoh pandai menulis kitab dengan bahasa Ibrani, maka Ia pun menulis Injil dengan bahasa Ibrani sesuai dengan kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala. Waroqoh adalah seorang yang telah lanjut usia lagi buta, maka Khadijah berkata kepada beliau: “Wahai anak pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh anak saudaramu (keponakan) ini,” lalu Ia mengatakan: “Wahai keponakanku, kejadian apa yang telah engkau lihat? Lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan semua peristiwa yang beliau alami? Mendengar penuturan itu lantas Waroqoh mengatakan: sesungguhnya dia adalah Namus yang dahulu juga telah mendatangi Musa. Aduhai seandainya di saat-saat itu aku masih muda, dan seandainya kelak aku masih hidup tatkala engkau diusir oleh kaummu.” Lantas Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan: “Apakah mereka akan mengusirku..?!!” Ia menjawab, “Benar, tidaklah datang seorang pun yang membawa ajaran seperti apa yang engkau bawa melainkan ia akan diusir, dan seandainya aku menjumpai hari itu, aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” Tidak berselang lama Waroqoh pun meninggal dunia, dan wahyu tengah terputus.

Takhrij

Dalam timbangan para pakar hadis, hadis ini termasuk hadismursal, karena Aisyah radhiallahu ‘anha tidak atau belum mendapati masa-masa tersebut. Namun demikian telah mapan dalam kaidah ilmu hadis bahwa mursal sahabat hadisnya adalah sah dan dapat diterima. Karena tidaklah mungkin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan hal tersebut kecuali beliau mendengarnya langsung dari Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam atau beliau mendengar dari para sahabat yang lain. Para ulama sepakat bahwa semua para sahabat adalah udul (adil). Dengan ini maka kisah tersebut adalah sebuah kisah shahih yang telah terjadi pada diri panutan kita penutup para nabi dan rasul yaitu nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Wallahu a’lam.

Pelajaran Kisah

Sebelum diturunkannya wahyu kepada Nabi kita Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, maka terlebih dahulu diperlihatkan kepada beliau mimpi yang benar. Dalam riwayat lain, mimpi baik yang demikian untuk meneguhkan jiwa beliau sebelum datang wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala kepadanya.
Al-Qodhi berkata, “Sebelum diturunkannya wahyu, maka dimulailah dengan adanya mimpi-mimpi yang baik. Yang demikian agar nantinya beliau tidak merasa kaget tatkala didatangi malaikat dan agar cahaya kenabian tidak datang secara spontan, hingga jiwa manusia merasa berat dan akan tergoncang. Maka dimulailah dengan salah satu perangai dan karomah kenabian berupa kebenaran dalam hal mimpi. Dan juga sebagaimana telah datang keterangan dalam hadis-hadis yang lain seperti beliau melihat cahaya terang, mendengar suara dan salamnya batu, pohon serta yang selainnya dari tanda-tanda kenabian. (Syarh Shahih Muslim,1:349)
Kemudian setelah itu timbul rasa kesenangan untuk berkholwah (menyepi), dan kholwah adalah kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang sholih dan hamba AllahSubhanahu wa Ta’ala yang senantiasa ingat kepada-Nya.
Abu Sulaiman al-Khottobi radhiallahu ‘anha berkata, “Timbul kesenangan untuk berkholwah pada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dengan hal tersebut akan timbul ketenangan hati, memudahkan dalam berfirkir, dan hal itu pula berarti meninggalkan kebiasaan buruk kebanyakan manusia, serta akan menjadikan hati menjadi Khusyu.” (SyarhShahih Muslim, 1:349)
Maka beliau pun berkholwah di sebuah gua yang dikenal dengan Gua Hira. Gua Hira adalah sebauh gua di suatu bukit yang terletak kurang lebih 3 mil dari Mekah.
Setelah beliau berkholwah dan beribadah di Gua Hira selama beberapa hari, datanglah Jibril membawa wahyu AllahSubhanahu wa Ta’ala seraya mengatakan “Bacalah!”. Namun beliau adalah seorang yang ummi yang tidak bisa baca dan tulis. Oleh karena itu, beliau menjawab “Saya tidak dapat membaca.” Kemudian Jibril mendekapnya dengan erat dan memerintahkan agar beliau membaca kembali.
Hikmah dari dekapan Jibril sebagaimana dijelaskan para ulama adalah untuk memusatkan perhatian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan agar beliau berkonsentrasi dengan menghadirkan hati sepenuhnya terhadap apa yang akan dibacakan kepadanya. Jibril mengulanginya tiga kali, hal itu menunjukkan kesungguhan dalam menggugah perhatiannya. Dari sini selayaknya bagi seorang mu’aliim (pengajar) sebelum ia mengajarkan ilmu, hendaklah benar-benar mengkondisikan para muridnya untuk memperhatikan pelajaran dan menghadirkan hati dengan sepenuhnya. Wallahu a’lam.
Setelah beliau mendapatkan pengajaran dari Jibril, beliau pulang dalam keadaan gemetar ketakutan dan meminta kepada sang pendamping setianya untuk menyelimuti hingga hilang rasa takutnya tersebut.
Al-Qodhi berkata, “Gemetar dan ketakutannya Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berarti beliau ragu terhadap apa yang telah Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan kepadanya, akan tetapi karena beliau khawatir tidak kuasa mengemban perkara tersebut dan tidak mampu membawa amanat wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala tersebut sehingga bergetar jiwanya.” (Syarah Shahih Muslim, 1:350)
Kemudian Khadijah membawanya menemui anak pamannya yaitu Waroqoh bin Naufal bin Asad dan menceritakan peristiwa yang telah terjadi pada diri suaminya. Waroqoh pun menanggapi bahwa dia adalah Namus yang juga telah datang kepada Musa ‘alaihissalam.
Kata Namus artinya pembawa rahasia kebaikan sedangkan Jasus artinya pembawa rahasia kejelekan. Adapun yang dimaksud oleh beliau adalah Jibril sang pembawa wahyu AllahSubhanahu wa Ta’ala.
Al-Harawi berkata, “Beliau (Jibril) dinamakan dengan demikian karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengkhususkannya sebagai pembawa wahyu dan perkara ghaib.” (Syarh Shahih Muslim, 1:350)
Kemudian Waroqoh memberi semangat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk tetap tegar di atas jalan yang telah dilalui oleh nabi Musa dan para nabi yang lainnya. Dia mengatakan: “Seandainya pada hari tatkala engkau telah diutus menjadi seorang rasul dan tatkala kaummu mengusirmu sedangkan aku masih gagah dan berusia muda, atau sekurang-kurangnya apabila aku masih hidup, maka aku akan menolongmu mati-matian.”
Namun takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala menentukan lain, Waroqoh meninggal dunia setelah waktu berlalu dan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala tengah berhenti. Semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala merahmati kita semua dan juga Waroqoh bin Naufal bin Asad. Wallahul Muwaffiq.

 

Mutiara Kisah

 

Beberapa pelajaran yang dapat diambil dari kisah di atas adalah:
1. Selayaknya bagi seorang pengajar untuk menggugah perhatian para murid dan memerintahkan untuk menghadirkan hati dan tidak lalai dari ilmu yang disampaikan. Seperti yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala mendekap dan mengulang-ulang perintahnya untuk membaca.
2. Kisah ini sangat jelas menunjukkan bahwa ayat yang pertama kali diturunkan adalah ayat-ayat di awal surat al-Alaq sebagaimana telah disepakati oleh para ulama salaf dan khalaf dan tidak sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang yang mengatakan bahwa yang pertama diturunkan adalah surat al-Mudatstsir.
3. Dalam kisah di atas nampak beberapa akhlak Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam di masa-masa sebelum beliau diangkat menjadi nabi seperti menyambung tali silaturahmi, memikul beban orang lain yang kepayahan, membantu orang yang kesulitan, menjamu tamu, dan lain sebagainya dari akhlak-akhlak terpuji Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
4. Kebaikan akhlak seseorang merupakan sebab terjaganya diri dari perkara-perkara jelek yang akan menimpanya. Sebagaimana hiburan yang disampaikan Khadijah kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala beliau mengkhawatirkan dirinya.
5. Dibolehkan memuji seseorang langsung di hadapannya bila yang demikian mengandung maslahat. Seperti yang dilakukan Khadijah tatkala ia menyebutkan kebaikan-kebaikan yang selama ini dilakukan oleh Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dalam rangka untuk meneguhkan hati beliau yang tengah dirundung ketakutan.
6. Kisah di atas menunjukkan kesempurnaan dan kecerdikan Khadijah, kemapanan jiwa, ketegunan hati, dan mengetahui kondisi dan keadaan, sehingga beliau menjadi pendamping hidup yang selalu memberikan dorongan di kala sang suami membutuhkannya. Maka perhatikanlah dengan baik wahai para istri, dan semoga AllahSubhanahu wa Ta’ala senantiasa meneguhkan kita semua di atas jalan yang haq.
7. Merupakan adab, apabila seorang yang lebih muda memanggil orang yang lebih tua maka dengan panggilan “Ya Ammi” (wahai paman), untuk menghormati dan memuliakannya. Sebagaimana hal itu adalah kebiasaan baik yang dilakukan oleh masyarakat Arab bahkan sebelum datang cahaya Islam menerangi dunia ini.
8. Kebenaran tetap harus dipegang sekalipun kebanyakan manusia meninggalkannya. Oleh karenanya, kita jangan terperdaya dengan banyaknya manusia yang tersesat dan jangan berkecil hati dengan sedikitnya pengikut kebenaran. Di awal mula diutusnya Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai nabi, banyak manusia yang mengingkarinya bahkan mengusir beliau. Namun, kebenaran tersebut suatu saat akan nampak dan manusia akan mengakui kebenaran tersebut. Wallahu a’lam.

Oleh: Ustad Abu Faiz
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 10 Tahun Ke-9 1431 H/2010 M

Fathu Makkah, Hari yang Ditunggu

Fathu Makkah, Hari yang Ditunggu


Tatkala bangsa Arab melihat pertempuran antara Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaumnya (kabilah Quraisy), mereka berkata, “Biarkan Muhammad berperang melawan kaumnya sendiri, jika dia menang, maka benar bahwa dirinya seorang nabi dan sekaligus kebanggaan bagi kita bangsa Arab dari umat yang lain. Dan jika sebaliknya dia kalah, maka kita telah selamat dari kedustaannya.”
Di sisi lain, ada golongan yang menunggu untuk masuk Islam apabila semua umat manusia telah masuk Islam. Oleh karena itu, mereka menunggu fathu makkah (penaklukan Mekah). Sebab kebanyakan manusia taklid dan mengekor pada manusia yang lain tanpa menilai kebenaran yang hakiki dengan akalnya yang lurus dan dalil.
Sikap semacam ini tentunya baik, akan tetapi yang lebih baik adalah menilai kebenaran Islam dan memeluknya karena dalil yang menunjukkan kebenarannya dan tidak bergantung pada kebanyakan orang. Oleh karena itu, tidak sama derajat mereka yang masuk Islam pada awal dakwah dengan mereka yang masuk Islam pada akhir masa dakwah Rasulullah. Tidak sama antara yang berkorban dengan jiwa dan harta dalam Islam ketimbang lainnya. Tidak sama antara yang masuk Islam dan berjihad fi sabilillah sebelum fathu makkah dengan yang berjihad sesudahnya. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,
لاَيَسْتَوِى مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ أُولاَئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنفَقُوا مِن بَعْدُ وَقَاتَلُوا
Tidak sama antara kalian yang berinfaq dan berperang sebelumfathu makkah atau hudaibiyah, mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada mereka yang berinfaq dan berperang sesudahnya.” (QS. Al-Hadid: 10)
Amru bin Salimah berkata, “Kaum Arab menunda keislaman mereka karena menanti fathu makkah. Maka tatkala terjadifathu makkah, setiap kabilah bersegera masuk Islam dan bapakku segera mendahului kaumku masuk Islam.” (Diriwayatkan Bukhari, 4302)
Para musuh yang memerangi kenabian menyangka akan mengalahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,sedangkan mereka yang dikehendaki hidayah oleh AllahSubhanahu wa Ta’ala menunggu kemenangan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam agar dia masuk Islam.
Fathu makkah artinya pembebasan Mekah dari negeri kufur menjadi negeri Islam. Pada hari itu Allah Subhanahu wa Ta’alamenolong dan memenangkan tentara-Nya serta memberantas kekafiran (nasrullah wal fathu) sebagaimana dalam surat An-Nashr.
Dahulu sebagian sahabat mengeluhkan kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam beratnya siksaan Quraisy terhadap mereka dan memohon keada beliau agar berdoa kepada Allah supaya menyegerakan kemenangan akan tetapi Rasulullah menjawab, “Sungguh agama ini akan jaya akan tetapi kalian terburu-buru”. Rasulullah mentarbiyah sahabatnya dengan pengorbanan dan kesabaran karena buahnya pasti tercapai sekalipun lama. Lihatlah buah dari perjuangan dan kesabaran mereka tercapai setelah 21 tahun dalam berdakwah dan jihad fi sabilillah.

 

Sebab Terjadinya Fathu Makkah

 

Telah kita ketahui bahwa dalam perjanjian damai di Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah terjadi kesepakatan antara Quraisy dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdi antaranya: Gencatan senjata selama 10 tahun dan boleh bagi siapa saja yang hendak bersekutu dengan Nabi Muhammad atau Quraisy. Maka Bani Bakr bergabung dengan Quraisy sedangkan bani Khuza’ah bergabung dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kedua belah pihak berada di masa itu dalam keadaan aman dan damai tanpa perang. Akan tetapi, kaum kafir yang menghalalkan segala sesuatu tidak mungkin iltizam(komitmen) dan memelihara perdamaian. Setelah berlalu setahun lebih Bani Bakr bersekutu dengan Quraisy memerangi Bani Khuza’ah sekutu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam atas dasar permusuhan masa lampau antara kedua kabilah tersebut. Mereka dibantu oleh Quraisy dengan harta, senjata, dan tentara karena dendam kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan demikian, maka mereka telah melanggar perjanjian Hudaibiyah dan mengobarkan api peperangan terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Bani Khuza’ah segera berangkat ke Madinah meminta pertolongan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,maka beliau mengabulkan permohonan mereka.
Quraisy Menyesal
Tindakan Quraisy membantu sekutu mereka dalam memerangi sekutu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammenujukkan bahwa mereka telah melanggar perdamaian Hudaibiyah dan mereka menyadari akan hal ini. Mereka menyesal dan takut kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan akibat yang akan timbul dari ulah mereka tersebut. Oleh karena itu, mereka segera mengirim Abu Sufyanradhiallahu ‘anhu (yang waktu itu masih kafir, red.) ke Madinah dengan tujuan untuk memperbarahui akad perdamaian damai.
Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu berangkat menuju ke Madinah untuk memohan maaf kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memperbaiki perdamaian, tetapi sesampainya di Madinah, ia tidak bertemu langsung dengan Rasululahshallallahu ‘alaihi wa sallam karena malu dan keberatan. Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu menemui Abu Bakar radhiallahu ‘anhu agar beliau menjadi duta atau perantara dirinya dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu kepada Umarradhiallahu ‘anhu, lalu kepada Ali dan Fatimah radhiallahu ‘anhu, tetapi mereka semua menolak. Sikap para sahabat mulia ini menunjukkan bahwa tidak ada wala’ (loyalitas) dan syafaat buat orang-orang kafir.
Diriwayatkan bahwa Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu tatkala sampai di Madinah, masuk ke rumah putrinya, Ummu Habibahradhiallahu ‘anhu Ummul Mukminin –istri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam- dan tatkala hendak duduk di tikar, maka Ummu Habibah melipatnya. Tindakan tersebut yang membuat bapaknya heran seraya mengatakan, “Apakah kamu melipat tikar ini karena jelek tidak layak aku duduki ataukah kamu tidak mengizinkan aku karena kehormatan tikar ini?” Maka Ummu Habibah radhiallahu ‘anhu menjawab, “Ini tikar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayah tidak pantas mendudukinya sedang ayah seorang musyrik.” Abu Sufyan mengatakan, “Wahai putriku, sekarang kamu menjadi anak yang durhaka setelah pisah dengan orang tuamu.” Kemudian dia keluar menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamdan mengajaknya bicara, tetapi beliau diam tidak menjawabnya sedikit pun. Maka Abu Sufyan kembali ke Mekah dalam keadaan sia-sia dan ini pertanda bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memaafkan karena mereka dalam pelanggaran ini.

 

Rasulullah Menyiapkan Pasukan

Tibalah saatnya untuk memerangi Quraisy dengan hak, dimana selama ini mereka memerangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya tanpa alasan yang dapat dibenarkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintah para sahabatnya untuk bersiap perang, beliau merahasiakan tujuannya agar Quraisy tidak bersiap perang, hingga umat Islam kepung negeri mereka.”
Mereka bersiap hinggap terkumpul 10.000 tentara. Tidak ada yang tertinggal seorang pun dari Muhajirin dan Anshar serta kabilah-kabilah yang tinggal di dekat Madinah. Bilangan yang sangat banyak ini menunjukkan betapa besarnya kemenangan Islam selama masa perjanjian Hudaibiyah (yang disebut oleh Allah dalam Surat Al-Fath sebagai hari kemengan) yang baru berlangsung kurang dari dua tahun, betapa banyak yang masuk Islam dalam selang waktu gencatan senjata antara Quraisy dan kaum muslimin. Pada waktu Perang Ahzab tahun ke-5 pasukan sahabat hanya sebanyak 3.000 tentara dan yang ikut di Hudaibiyah pada tahun ke-6 hanya 1400 sahabat. Ini menunjukkan pengaruh positif dakwah Islam tatkala dibiarkan leluasa tanpa dihalangi atau diperangi.
Di tengah perjalanan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemberitahukan tujuannya kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaagar menutup semua berita kepada kaum Quraisy sebab beliau menghendaki penduduk Mekah meneyrah dengan damai dan tidak menghendaki adanya peperangan terhadap kaumnya di Mekah.

Kisah Hathib bin Abi Balta’ah

Sebagaimana kita ketahui bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat merahasiakan peperangan ini dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menutup semua berita kepada kaum Quraisy, sebab beliau menghendaki penduduk Mekah menyerah dengan damai dan tidak menghendaki adanya peperangan terhadap kaumnya di Mekah. Akan tetapi, Hathib bin Abi Balta’ah radhiallahu ‘anhudemi kemaslahatan diri dan keluarganya mengirim surat ke Mekah lewat seorang wanita memberitahukan kepada keluarganya dan penduduk Mekah tentang tujuan Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wahyu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtentang perbuatan Hathib ini, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada Ali, Zubair, dan Miqdadradhiallahu ‘anhum untuk mengejar wanita tersebut sebelum tiba di Mekah. Seraya berkata, “Berangkatlah kalian hingga sampai di Raudhah Khah, di sana ada seorang wanita membawa surat.”
Tatkala mereka mendapati wanita itu di tempat tersebut, mereka meminta kepadanya untuk menyerahkan surat tetapi dia mengingkari bahwa dirinya tidak membawa surat, maka mereka mengatakan, “Keluarkan surat itu atau kami buka pakaianmu.” Lalu dia (wanita itu) mengeluarkannya dari jalinan rambutnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambertanya kepada Hathib radhiallahu ‘anhu, “Kenapa engkau melakukan ini, wahai Hathib?” Dia menjawab, “Saya tidak melakukannya karena murtad atau cinta kekafiran, tetapi saya hendak memiliki penolong dari Quraisy yang dapat menjaga kerabat saya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Dia jujur.” Adapun Umar radhiallahu ‘anhu berkata, “Izinkan saya bunuh orang munafik ini, wahai Rasulullah.” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Sesungguhnya dia ikut Perang Badar. Tahukah kamu, sesungguhnya Allah berkata, ‘Beramallah kalian hai ahli badar, sungguh Aku telah mengampuni dosa kalian’.” Lalu AllahSubhanahu wa Ta’ala menurunkan ayat,
Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian menjadikan musuh-Ku dan musuh kalian sebagai wali yang kalian cintai padahal mereka kafir.” (QS. Al-Mumtahanan: 1)
Maka Umar radhiallahu ‘anhu menangis menyesali perkataannya tersebut.
Mereka berangkat pada bulan Ramadhan tahun ke-8 dalam keadaan berpuasa hingga tiba di Kudaid lalu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam berbuka dan menyuruh para sahabat untuk berbuka puasa.
Sebagaimana biasa, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamtatkala meninggalkan Madinah, maka beliau memilih khalifah di Madinah Abu Ruhmin Kulsum bin Hushain.

Pembesar Quraisy Masuk Islam

Sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan pasukannya tiba di Mekah beberapa tokoh Quraisy bertemu beliau untuk masuk Islam yang semula mereka akan menuju ke Madinah di antaranya Abu Sufyan bin Haris sepupu beliau dan Abdullah bin Abi Umayyah radhiallahu ‘anhu –dahulu bersama Abu Jahal- menghalangi Abu Thalib mengatakan syahadat.
Juga paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam Abbasradhiallahu ‘anhu, bersama keluarganya bertemu dengan beliau untuk hijrah ke Madinah. Abbas radhiallahu ‘anhu telah masuk Islam sebelum itu, tetapi beliau tetap tinggal di Mekah karena maslahat dakwah.
Ibnu Abdil Barr mengatakan, “Sesungguhnya Abbasradhiallahu ‘anhu telah masuk Islam sebelum Perang Khaibar pada tahun ke-6, tetapi beliau menyembunyikan Islamnya karena maslahat dakwah dan menjadi mata-mata bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Quraisy di Mekah.”
Ibnu Hajar berkata, “Sesungguhnya Umar radhiallahu ‘anhutidak memasukkan Abbas radhiallahu ‘anhu dalam anggota majlis syura karena beliau tidak hijrah sebelum fathu makkahpadahal Umar radhiallahu ‘anhu mengetahui keutamaannya dan pernah bertawassul dengannya dalam istiqa.

Pelajaran dari Kisah
Sesungguhnya dalam kisah para sahabat terdapat ibrah(pelajaran) bagi orang-orang yang datang sesudah mereka. Di antara ibrah yang kita ambil dari kisah dia atas antara lain:
1.  Abu Sufyan tidak memaksakan kehendaknya pada putrinya dengan melarangnya menikah dengan Rasulullah dan tidak menghukum anaknya ketika melipat tikar padahal dia pembesar Quraisy dan tokoh kufur.
2. Wala’ hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya sekalipun kerabat atau manusia murka.
3. Semua yang terjadi pada sahabat, meski tampaknya tidak baik, atas kehendak Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menjelaskan hukum syariat berkaitan dengan peristiwa tesebut, seperti kisah Hathib radhiallahu ‘anhu.
4. Fathu makkah menyingkap tabir syubhat yang menghalangi manusia dari Islam, maka tidak ada kebaikan bagi yang tidak masuk Islam setelah fathu makkah hingga akhir zaman.
5. Seorang yang mulia terkadang melakukan pelanggaran namun tidak kafir karenanya, sebab kejelakannya tenggelam dalam lautan kebaikannya.

Lihat Sirah Nabawiyyah oleh Dr. Mahdi Rizqullah Ahmad: 535-541.
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 8 Tahun Ke-11 1433

Sifat Fisik dan Akhlak Rasulullah

Sifat Fisik dan Akhlak Rasulullah


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lain daripada yang lain karena kesempurnaan penciptaan fisik dan akhlaknya, yang tidak cukup hanya digambarkan lewat kata-kata. Akibatnya, semua hati pasti akan mengagungkan dan menyanjungnya, dengan sanjungan yang tidak pernah diberikan kepada selainnya. Orang-orang yang pernah hidup berdekatan dengannya pasti akan mencintainya, tidak peduli apa pun yang bakal menimpa mereka. Hal ini terjadi karena memang kesempurnaan diri beliau yang tidak pernah dimiliki siapa pun. Berikut ini akan kami paparkan ringkasan beberapa riwayat yang menejlaskan keindahan dan kesempurnaan fisiknya yang tentunya penjelasan ini pun masih sangat terbatas.

 

Keindahan Fisik Rasulullah


Ummu Ma’bad Al-Khuzaiyah pernah berkata tentang diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia menggambarkan beberapa sifat beliau di hadapan suaminya, saat beliau lewat di kemahnya dalam perjalanan hijrah ke Madinah, “Dia sangat bersih, wajahnya berseri-seri, bagus perawakannya, tidak merasa berat karena gemuk, tidak bisa dicela karena kepalanya kecil, elok dan tampan, bagian hitam matanya sangat hitam, bulu matanya panjang, tidak mengobral bicara, lehernya panjang, matanya jelita, memakai celak mata, alisnya tipis, memanjang dan bersambung., rambutnya hitam, jika diam dia tampat berwibawa, jika berbicara dia tampak menarik, dia adalah orang yang paling elok dan menawan dilihat dari kejauhan, bagus dan manis setelah mendekat, bicaranya manis, rinci, tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak, bicaranya seakan-akan merjan yang tertata rapi dan landai, perawakannya sedang-sedang, mata yang memandangnya tidak lolos karena perawakannya yang pendek dan tidak sebal karena perawakannya yang tinggi (badannya), seakan satu dahan di antara dua dahan, dia adalah seorang dari tiga orang yang menarik perhatian, paling bagus tampilannya, mempunyai rekan-rekan yang menghormatinya, jika beliau berbiacara mereka menyimak perkataannya, jika beliau memberikan perintah, mereka bersegera melaksanakan perintahnya, dia orang yang ditaati, disegani, dikerumuni orang-orang, wajahnya tidak membereggut dan tidak pula orang yang diremehkan.”
Ali bin Abi Thalib juga berkata menyifati diri Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam, “Beliau bukan orang yang terlalu tinggi dan tidak pula terlalu pendek, orang yang berperawakan sedang-sedang, rambutnya tidak kaku dan tidak pula keriting, rambutnya lebat, tidak gemuk dan tidak kurus, wajahnya sedikit bulan (oval), bola matanya sangat hitam, bulu dadanya lembut, tidak ada bulu-bulu di badan, telapak tangan dan kakinya tebal, jika berjalan seakan-akan sedang berjalan di jalanan yang menurun (cepat), jika menoleh seluruh badannya ikut menoleh, di antara kedua bahunya ada cincin nubuwah, yaitu cincin para nabi, telapak tangannya yang terbagus, dadanya yang paling bidang, yang paling jujur bicaranya, yang paling memenuhi perlindungan, yang paling lembut perangainya, yang paing mulia pergaulannya, siapa pun yang tiba-tiba memandanganya tentu segan kepadanya, siapa yang bergaul dengannya tentu akan mencintainya.” Kemudian dia berbicara lagi, “Aku tidak pernah melihat orang yang seperti beliau, sebelum maupun sesudahnya.”
Dalam sebuah riwayat darinya disebutkan, “Kepalanya besar, tulang-tulang sendirnya besar, bulu matanya panjang, jika berjalan seperti sedang berjalan di jalanan yang menurun.”
Jabir bin Samurah berkata, “Mulutnya besar, matanya lebar dan tidak banyak tumpukkan dagingnya.”
Abu Thufail berkata, “Kulitnya putih, wajahnya berseri-seri dan perawakannya sedang-sedang (tidak gemuk dan tidak kurus, tidak tinggi dan tidak pendek)”
Anas bin Malik berkata, “Kedua telapak tangannya lebar.” Dia juga berkata, “Warna kulitnya elok, tidak putih sopak dan tidak terlalu coklat, kuat kepalanya, di kepala atau jenggotnya hanya dua puluh helai uban,
Dia juga berkata, “Ada beberapa helai uban di pelipisnya.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Di kepalanya beberapa helai uban yang berpencar-pencar.”
Abu Juhaifah berkata, “Kulihat uban di bawah bibirnya yang bawah, yang disebut al-anfaqah.”
Abdullah bin Bisri berkata, “Di bawah bibirnya yang bawah ada beberapa helai uban.”
Al-Barra berkata, “Perawakannya sedang, dua bahunya bidang, memiliki rambut mencapai daun telinga. Kulihat beliau mengenakan jubah warna merah, tidak pernah kulihat yang sebagus itu.”
Al-Barra berkata, “Beliau adalah orang yang paling tampan wajahnya dan paling bagus akhlaknya.”
Al-Barra pernah ditanya, “Apakah wajah beliau seperti pedang?” Dia menjawab, “Tidak, tetapi wajah beliau seperti rembulan. Dalam suatu riwayat disebutkan, “Wajahnya bulat.”
Ar-Rubayyi bin Mu’awwidz berkata, “Saat melihat beliau seakan-akan aku sedang melihat matahari yang sedang terbit.”
Jabir bin Samurah berkata, “Aku pernah melihat beliau pada suatu malam yang cerah tanpa ada mendung. Kupandangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ganti kupandang rembulan. Ternyata menurut penglihatanku beliau lebih indah daripada rembulan.”
Abu Hurairah berkata, “Tidak pernah kulihat sesuatu lebih bagus daripada diri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekan-akan matahari berjalan di wajahnya dan tidak pernah kuliat seseorang yang jalannya lebih cepat daripada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seakan-akan tanah menjadi landai bagi beliau. Kami sudah berusaha mencurahkan kekuatan, tetapi seakan-akan beliau tidak peduli.”
Ka’ab bin Malik berkata, “Jika sedang gembira, wajah beliau berkilau, seakan-akan wajah beliau adalah sepotong rembulan.”
Saat sedang berada di dekat Aisyah, beliau berkeringat, hingga membuat raut muka beliau berkilau. Kemudian hal ini digambarkan Abu Kabir Al-Hudzali dalam syairnya.
“Jika kulihat raut mukanya ada kilauan yang memancar di sana.”
Setiap kali Abu Bakar melihat beliau, maka dia berkata, “Yang terpercaya dan pilihan, kepada kebaikan dia menyeru. Seperti bulan purnama yang mengenyahkan kegelapan.”
Jika sedang marah, muka beliau memerah, seakan-akan kedua tulang pipinya terbelah buah delima.
Jabir bin Samurah berkata, “Kedua lengannya halus dan lembut, jika tertawa hanya tersenyum, dan setiap kali aku memandangnya, maka kukatakan, “Dua mata yang bercelak, tetapi tidak layaknya celak.”
Ibnu Abbas berkata, “Ada celah di antara gigi-gigi serinya. Jika sedang berbicara, terlihat ada semacam cahaya yang memancar dari gigi-gigi seri itu.”
Leher beliau seperti leher boneka yang terbaut dari perak yang mengkilat, mulutnya indah dan lebar, jenggotnya lebat, keningnya lebar, hidungnya indah, kedua pipinya lembut dan empuk, dari leher depannya hingga ke pusarnya melajur seperti tongkat, hanya di dada dan perutnya yang ada bulunya, lengan dan betisnya juga ada rambutnya, perut dan dada sama-sama bidang, pergelangan tangannya panjang, telapak tangannya lebar, bentuk tulang lengan dan betisnya bagus, telapak kakinya yang tengah melengkung, anggota-anggota badannya panjang, jika badannya condong, maka condongnya itu kuat, langkah-langkah kaki itu lebar dan berjalan dengan tenang.
Anas berkata, “Aku tidak pernah menyentuh kain sutra yang lebih halus daripada telapak tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku tidak pernah mencium suatu aroma minyak kesturi atau bau apapun yang lebih harum daripada aroma dan bau (keringat) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Abu Juhaifah berkata, “Aku pernah memegang tangan beliau lalu kutempelkan di wajahku. Ternyata tangan beliau lebih dingin daripada es dan lebih harum daripada aroma minyak kesturi.”
Jabir bin Samurah berkata, selagi dia masih kecil, “Beliau pernah mengusap pipiku. Kurasakan tangannya benar-benar dingin dan harum, seakan-akan beliau baru mengeluarkannya dari tempat penyimpanan minyak wangi.”
Anas berkata, “Butir-butir keringatnya seperti mutiara.” Ummu Salamah juga berkata, “Keringatnya lebih harum daripada minyak wangi.”
Jabir berkata, “Beliau tidak melewati jalan lalu seseorang membuntutinya melainkan dia bisa mengetahui bahwa beliau telah lewat, dari keharuman bau keringatnya.”
Di antara kedua bahunya ada tanda nubuwah seperti telur burung merpati.

 

Kesempurnaan Jiwa dan Kemuliaan Akhlak

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lain daripada yang lain karena kefasihan bicaranya, kejelasan ucapannya, yang selalu disampaikan pada kesempatan yang paling tepat dan di tempat yang tidak sulit diketahui, lancar, jernih kata-katanya, jelas pengucapan dan maknanya, mengkhususkan pada penekanan-penekanan hukum, mengetahui logat-logat bangsa Arab, berbicara dengan kafilah bangsa Arab menurut logat masing-masing, berdialog dengan mereka menurut bahasa masing-masing, ada kekuatan pola bahasa Badui yang cadas berhimpun pada dirinya, begitu pula kejernihan dan kejelasan cara orang bicara orang yang sudah beradab, berkat kekuatan datang dari Ilahi dan dilantarkan lewat wahyu.
Beliau adalah orang yang lembut, murah hati, mampu menguasai diri, suka memaafkan ketika memegang kekuasaan dan sabar saat ditekan. Ini semua merupakan sifat-sifat yang diajarkan Allah.
Orang yang murah hati bisa saja tergelincir dan terperosok. Tetapi sekian banyak gangguan yang tertuju kepada beliau justru menambah kesabaran beliau. Tingkah pola orang-orang bodoh yang berlebih-lebihan justru menambah kemurahan hati beliau. Aisyah berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam harus memilih di antara dua perkara, tentu beliau memilih yang paling mudah di antara keduanya, selagi itu bukan dosa. Jika suatu dosa, maka beliaulah orang yang paling menjauh darinya. Beliau tidak membalas untuk dirinya sendiri kecuali jika ada pelanggaran terhadap kehormatan Allah, lalu beliau membalas karena Allah. Beliau adalah orang yang paling tidak mudah marah dan paling cepat ridha.”
Di antara sifat kemurahan hati dan kedermawanan beliau yang sulit digambarkan bahwa beliau memberikan apa pun dan tidak takut menjadi miskin. Ibnu Abbas berkata, “Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling murah hati. Kemurahan hati beliau paling menonjol adalah pada bulan Ramadhan saat dihampiri Jibril beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, untuk mengajarkan Alquran kepada beliau. Beliau benar-benar orang yang paling murah hati untuk hal-hal yang baik lebih hebat.”
Jabir berkata, “Tidak pernah beliau dimintai sesuatu, lalu menjawab, “Tidak.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kebenaran, patriotisme, dan kekuatan yang sulit diukur dan tidak terlalu sulit untuk diketahui di mana keberadaannya. Beliau adalah orang yang paling pemberani mendatangi tempat-tempat yang paling sulit. Berapa banyak para pemberani dan patriot yang justru lari dari hadapan beliau. Beliau adalah orang yang tegar dan tidak bisa diusik, terus maju dan tidak mundur serta tidak gentar. Siapa pun orang pemberani tentu akan lari menghindar dari hadapan beliau. Ali berkata, “Jika kami sedang dikepung ketakutan dan bahaya, maka kami berlindung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tak seorang pun yang lebih dekat jaraknya dengan musuh selain beliau.”
Anas berkata, “Suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh sebuah suara. Lalu orang-orang semburat menuju ke sumber suara tersebut. Mereka bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sudah kembali dari sumber suara tersebut. Beliau lebih dahulu datang ke sana daripada mereka. Saat itu beliau menunggang kuda milik Abu Thalhah dan di leher beliau ada pedang. Beliau bersabda, “Kalian tidak usah gentar. Kalian tidak usah gentar!”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling malu dan suka menundukkan mata. Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Beliau adalah orang yang lebih pemalu daripada gadis di tempat pingitannya. Jika tidak menyukai sesuatu, maka bisa diketahui dari raut mukanya.”
Beliau tidak pernah lama memandang ke wajah seseorang, menundukkan pandangan, lebih banyak memandang ke arah tanah daripada memandang ke arah langit, pandangannya jeli, tidak berbicara langsung di hadapan seseorang yang membuatnya malu, tidak menyebut nama seseorang secara jelas jika beliau dengar sesuatu yang kurang disenanginya, tetapi beliau bertanya, “Mengapa orang-orang itu berbuat begitu?” Beliau memang pas seperti yang dikatakan Al-Farazdaq dalam syairnya,
“Menunduk karena malu dan menunduk karena enggan tiada berbiacara dengan seseorang kecuali saat tersenyum.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling adil, paling mampu menahan diri, paling jujur perkataannya, dan paling besar amanatnya. Orang yang mendebat dan bahkan musuh beliau pun mengakui hal ini. Sebelum nubuwah beliau sudah dijuluki Al-Amin (orang yang dipercaya). Sebelum Islam dan pada masa Jahiliyah beliau juga ditunjuk sebagai pengadil. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Ali, bahwa Abu Jahl pernah berkata kepada beliau, “Kami tidak mendustakan apa yang engkau bawa.” Karena itu kemudian Allah menurunkan ayat tentang orang-orang yang mendustakan itu.
فَإِنَّهُمْ لاَ يُكَذِّبُونَكَ وَلَكِنَّ الظَّالِمِينَ بِئَايَاتِ اللهِ يَجْحَدُونَ
Mereka sebenarnya bukan mendustakan kamu tetapi orang-orang yang zhalim itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)
Heraklius mengajukan pertanyaan kepada Abu Sufyan, “Apakah kalian menuduhnya dusta sebelum mengatakan apa yang dia katakan?” Abu Sufyan menjawab, “Tidak.”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tawadhu’ (rendah hati) dan paling jauh dari sifat sombong. Beliau tidak menginginkan orang-orang berdiri saat menyambut kedatangannya seperti yang dilakukan terhadap para raja. Beliau biasa menjenguk orang sakit, duduk bersama orang miskin, memenuhi undangan hamba sahaya, duduk di tengah para sahabat, sama seperti keadaan mereka. Aisyah berkata, “Beliau biasa menambal terompahnya (sandal), menjahit bajunya, melaksanakan pekerjaan dengan tangannya sendiri, seperti yang dilakukan salah seorang di antara kalian di dalam rumahnya. Beliau sama dengan orang lain, mencuci pakaiannya, memerah air susu dombanya, dan membereskan urusannya sendiri.”
Beliau adalah orang yang paling aktif memenuhi janji, menyambung tali persaudaraan, paling menyayangi dan bersikap lemah lembut terhadap orang lain, paling bagus pergaulannya, paling lurus akhlaknya, paling jauh dari akhlak yang buruk, tidak pernah berbuat kekejian dan menganjurkan kepada kekejian, bukan termasuk orang yang suka mengumpat dan mengutuk, bukan termasuk orang yang suka membuat hiruk pikuk di pasar, tidak membalas keburukan dengan keburukan serupa tetapi memaafkan dan lapang dada, tidak membiarkan seseorang berjalan di belakangnya, tidak mengungguli hamba sayaha dan pembantunya dalam masalah makan dan pakaian, membantu orang yang justru seharusnya membantu beliau, tidak pernah membentak pembantunya yang tidak beres atau tidak mau melaksanakan perintahnya, mencintai orang-orang miskin dan suka duduk-duduk bersama mereka, menghadiri jenazah mereka, tidak mencela orang miskin karena kemiskinannya.
Dalam sebuah perjalanan, beliau memerintahkan untuk menyembelih seekor domba. Seseorang berkata, “Akulah yang akan menyembelihnya.” Yang lain berkata, “Akulah yang akan mengulitinya.” Yang lain berkata, “Akulah yang akan memasaknya.” Lalu beliau bersabda, “Akulah yang akan mengumpulkan kayu bakarnya.” Mereka berkata, “Kami akan mencukupkan bagi engkau.”
Beliau bersabda, “Aku sudah tahu kalian akan mencukupkan bagiku. Tetapi aku tidak suka berbeda dari kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai hamba-Nya yang berbeda di tengah-tengah rekan-rekannya. Setelah itu beliau bangkit lalu mengumpulkan kayu bakar.”
Kita beri kesempatan kepada Hindun bin Abu Halah untuk menggambarkan sifat-sifat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallamseperti tampak berduka, terus menerus berpikir, tidak punya waktu untuk istirahat, tidak berbicara jika tidak perlu, lebih banyak diam, memulai dan mengakhiri perkataan dengan seluruh bagian mulutnya dan tidak dengan ujung-ujungnya saja, berbicara dengan menggunakan kata-kata yang luas maknanya, terinci tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit, dengan nada yang sedang-sedang, tidak terlalu keras dan tidak terlau pelan, mengagungkan nikmat sekalipun kecil, tidak mencela sesuatu, tidak pernah mencela rasa makanan dan tidak terlalu memujinya, tidak terpancing untuk cepat-cepat marah jika ada sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran, tidak marah untuk kepentingan dirinya, lapang dada, jika memberi isyarat beliau memberi isyarat dengan seluruh telapak tangannya, jika sedang kagum beliau dapat membalik kekagumannya, jika sedang marah beliau berpaling dan tampak semakin tua, jika sedang gembira beliau menundukkan pandangan matanya. Tawanya cukup dengan senyuman, yang senyumnya mirip dengan butir-butir salju.
Beliau menahan lidahnya kecuali untuk hal-hal yang dibutuhkan, mempersatukan para sahabat dan tidak memecah belah mereka, menghormati orang-orang yang memang dihormati di setiap kaum dan memberikan kekuasaan kepadanya atas kaumnya, memperingatkan manusia, bersikap waspada terhadap mereka, tanpa menyembunyikan kabar gembira yang memang harus diberitahukan kepada mereka.
Beliau mengawasi para sahabat, menanyakan apa yang terjadi di antara manusia, membaguskan yang bagus dan membenarkannya, memburukkan yang buruk dan melemahkannya, sederhana dan tidak macam-macam, tidak lalai karena takut jika mereka lalai dan bosan, setiap keadaan bagi beliau adalah normal, tidak kikir terhadap kebenaran, tidak berlebih-lebihan kepada orang lain, berbuat lemah lembut kepada orang yang paling baik. Orang yang paling baik di mata beliau adalah orang yang paling banyak nasihatnya, dan orang yang paling besar kedudukannya di mata beliau adalah orang yang paling baik perhatian dan pertolongannya.
Beliau tidak duduk dan tidak bangkit kecuali dengan dzikir, tidak membatasi berbagai tempat dan memilih tempat yang khusus bagi beliau, jika tiba di suatu pertemuan beberapa orang, beliau duduk di tempat yang paling akhir di dalam pertemuan itu dan beliau memerintahkan yang demikian itu, memberikan tempat kepada setiap orang yang hadir dalam pertemuan beliau sehingga tidak ada orang yang hadir di situ bahwa seseorang merasa lebih terhormat dari beliau. Siapa pun yang duduk bersama beliau atau mengajaknya bangkit untuk keperluan, maka dengan sabar beliau melayaninya sehingga orang itulah yang beranjak dari hadapan beliau. Siapa pun yang meminta suatu keperluan, maka beliau tidak pernah menolaknya. Beliau selalu membuka diri kepada manusia, sehingga beliau layaknya bapak bagi mereka. Mereka selalu berdekatan dengan beliau dalam masalah kebenaran, menjadi utama di sisinya karena takwa. Majelisnya adalah majelis yang dipenuhi kemurahan hati, malu, sabar, dan amanat, tidak ada suara yang melengking, tidak dikhawatirkan ada pelanggaran terhadap kehormatan, mereka saling bersimpati dalam masalah ketakwaan, menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, menolong orang yang membutuhkan pertolongan, dan mengasihi orang asing.
Beliau senantiasa gembira, murah hati, lemah lembut, tidak kaku dan keras, tidak suka mengutuk, tidak berkata keji, tidak suka mencela, tidak suka memuji, pura-pura lalai terhadap sesuatu yang tidak menarik dan tidak tunduk kepadanya, meninggalkan tiga perkara dari dirinya: riya, banyak bicara, dan membicarakan sesuatu yang tidak perlu. Beliau meninggalkan manusia dari tiga perkara: tidak mencela seseorang, tidak menghinanya, dan tidak mencari-cari kesalahannya. Beliau tidak berbicara kecuali dalam hal-hal yang beliau mengharapkan pahalanya. Jika beliau berbicara, orang-orang yang hadir di majelisnya diam, seakan-akan di atas kepala mereka ada burung. Jika beliau diam, maka mereka baru bicara. Mereka tidak berdebat di hadapan beliau. Jika ada seseorang berbicara saat beliau berbicara, mereka menyuruhnya diam sehingga beliau selesai berbicara. Beliau tersenyum jika ada sesuatu yang membuat mereka tersenyum, mengagumi sesuatu yang membuat mereka kagum, sabar mengahadapi kekasaran orang asing. Beliau bersabda, ‘Jika kalian melihat orang yang ingin memenuhi kebutuhan hidupnya, maka bantulah ia.’ Beliau tidak mencari pujian kecuali dari orang yang memang pantas.”
Kharijah binti Zaid berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamadalah orang yang paling mulia di dalam majelisnya, hampir tidak ada yang keluar dari pinggir bibirnya. Beliau lebih banyak diam, tidak berbicara yang tidak diperlukan, berpaling dari orang yang berbicara dengan cara yang tidak baik. Tawanya berupa senyuman, perkataannya terinci, tidak terlalu banyak dan tidak terlalu sedikit. Para sahabat tertawa jika beliau tersenyum, karena mereka hormat dan mengikuti beliau.”
Secara umum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gudangnya sifat-sifat kesempurnaan yang sulit dicari tandingannya. Allah membimbing dan membaguskan bimbingan-Nya sampai-sampai Allah berfirman terhadap beliau seraya memuji beliau,
Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS Al-Qalam: 4)
Sifat-sifat yang sempurna inilah yang membuat jiwa manusia merasa dekat dengan beliau, membuat hati mereka mencintai beliau, menempatkan beliau sebagai pimpinan yang menjadi tumpuan harapan hati. Bahkan orang-orang yang dulunya bersikap keras terhadap beliau berubah menjadi lemah lembut, hingga akhirnya manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong.
Sifat-sifat yang sudah disebutkan di sini hanya sebagian kecil dari gambaran kesempurnaan dan keagungan sifat-sifat beliau. Hakikat sebenarnya yang menggambarkan sifat dan ciri-ciri beliau adalah sesuatu yang tidak bisa diketahui secara persis hingga detil-detilnya. Adakah orang yang mengaku bisa mengetahui hakikat diri manusia yang paling sempurna dan mendapat cahaya Rabbnya sehingga akhlaknya pun adalah Alquran?
Ya Allah, rahmatilah Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana engkau merahmati Ibrahim dan keluarga Ibrahim, sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkahi Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.

Sumber: Sirah Nabawiyah, Syaikh Shafiyyurrahma al-Mubarakfuri, Pustaka Al-Kautsar, Cetakan 2 2009